BerandaKontruksiProyek Irigasi Tersier di Trumbu Kasemen Diduga Asal Jadi, Pekerjaan Amburadul dan...

Proyek Irigasi Tersier di Trumbu Kasemen Diduga Asal Jadi, Pekerjaan Amburadul dan Minim Pengawasan

SERANG, intipena.com — Proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier di Kelurahan Trumbu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, menjadi sorotan publik. Pekerjaan yang seharusnya meningkatkan kualitas jaringan air justru diduga dikerjakan asal-asalan dan terkesan amburadul.

Proyek tersebut berada di bawah pengelolaan Dinas DPUPR Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian (BBWSC3) dengan nilai anggaran Rp519.964.100 juta. Pelaksanaan proyek direncanakan selama 90 hari kalender, dalam kegiatan Inpres No.2 Tahap 2 Tahun 2025 Tipe 1. Namun, yang mencengangkan, nomor kontrak proyek tidak tertera di papan informasi kegiatan, sehingga menimbulkan pertanyaan publik tentang transparansi pekerjaan tersebut.

Temuan di Lapangan: Pondasi Asal Tancap dan Pekerjaan dalam Genangan Air

Hasil penelusuran tim media menunjukkan banyak kejanggalan. Pekerjaan tetap dilakukan meskipun area irigasi masih tergenang air tanpa ada upaya menutup pintu air. Tak hanya itu, pondasi tidak digali sesuai standar, batu ditancapkan secara acak dan tanpa susunan teknis yang benar, seolah dikerjakan hanya untuk mengejar target waktu.

Salah satu pekerja di lokasi mengaku, pengawasan dari DPUPR Bidang Sumber Daya Air maupun BBWSC3 belum pernah terlihat.

“Belum ada pengawasan, yang datang cuma kirim material. Panjang pondasi 400×2 meter, tinggi 90 cm. Upah dibayar harian Rp140 ribu, dibayar langsung dari pihak balai,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebelumnya proyek semacam ini biasa dikerjakan oleh kelompok tani pengguna air (P3A), namun sekarang dikelola langsung oleh pihak dinas.

LSM NKRI Banten: Proyek Diduga Asal-Asalan dan Tidak Profesional

Kritik keras datang dari Supri, perwakilan LSM NKRI Banten bidang investigasi, yang menilai proyek tersebut tidak sesuai standar konstruksi dan minim pengawasan.

“Proyek seperti itu jelas asal jadi. Tidak memperhatikan mutu dan kualitas pekerjaan, yang penting selesai cepat dan anggaran cair. Padahal ini uang negara, harusnya dikelola dengan tanggung jawab,” tegas Supri.

Ia juga menilai metode pengerjaan sangat janggal karena adukan semen dilakukan saat area masih banjir.

“Coba lihat di lokasi, batu ditumpuk sembarangan dan adukan semen ditabur di air. Ini bukan pekerjaan teknik, tapi asal-asalan,” ujarnya.

Supri bahkan mencurigai adanya indikasi pembiaran atau kongkalikong antara pihak pelaksana dengan dinas terkait.

“Kami akan segera melayangkan surat resmi ke DPUPR Bidang SDA dan BBWSC3 untuk meminta klarifikasi dan audit pekerjaan ini,” tandasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian (BBWSC3) belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi terkait dugaan proyek asal jadi tersebut.

ARTIKEL TERKAIT

Paling Populer

Recent Comments